
Minuman khas (tradisional) ala Kopitiam Oey yang berisi rempah-rempah dan dipercaya memiliki khasiat tertentu
Jika Anda sedang berada di sekitar jalan Sabang, dan tiba-tiba merasa lapar atau sekedar mencari tempat untuk nongkrong sambil minum kopi atau minuman tradisional, maka mampirlah ke Kopitiam Oey. Sebuah bangunan dengan gaya zaman kolonial, yang sangat tidak mencolok dari luar, tidak terlalu besar, tapi terbukti mencuri perhatian banyak orang untuk masuk dan mencari tau ada apa di dalam sana.
“Kopitiam Oey” demikian tulisan yang terpampang dengan jelas di atas bangunan itu beserta satu huruf kanji china yang 100% tidak bisa saya baca, tapi saya yakin memiliki terjemahan sama. Letaknya berada pada deretan rumah makan di sepanjang jalan sabang ini, dengan tampilan yang sangat oldis, menawan, dan eksotis. Sensasi yang saya rasakan ketika memasuki tempat ini terasa begitu beda. Begitu masuk, saya langsung disuruh duduk dan disambut dengan disodorkan kertas-kertas menu makanan oleh pelayannya yang berseragam hitam. Menurut pelayannya, tempat makan ini adalah milik Bondan Winarno presenter kuliner yang sering nongol di televisi.
Saya merasa ditarik ke zaman yang tidak pernah saya alami dalam kehidupan nyata. Mungkin berpuluh2 tahun yg lalu, zaman dimana kakek saya sedang melakukan pendekatan dengan nenek saya dulu kala itu. Sambil dicekoki dengan alunan lagu-lagu yang juga belum pernah saya denger sebelumnya, namun dari aliran musiknya saya tau itu sangat klasik, sangat tempoe doeloe, dan sangat tidak familiar ditelinga. Ya.. lagu2 keroncong. (dalam hitungan detik saya terlempar lagi dalam alam imajinasi sendiri, di kepala saya seolah memutarkan adegan dimana ada ibu-ibu dengan konde besar di kepalanya, dengan posisi duduk bersimpuh, dengan mimik muka serius, dan bibir yangg seperti berlomba membentuk huruf O besar dan o kecil, melantunkan lagu-lagu keroncong).
Ketika mba-mba pelayan itu membuyarkan imajinasi yang sedang saya bentuk, menanyakan mau pesan apa, saya kembali dibuat bengong sesaat, terkesima dengan tulisan yang tertera di daftar menu. Bukan bahasanya yang tidak saya mengerti, bukan juga tulisannya yang tidak terbaca, dengan jelas saya mengenali huruf-hurufnya, hanya saja membutuhkan waktu lama untuk mengetahui cara membacanya yang benar, dan menerjemahkannya dengan mengimajinasikan makanan seperti apa yang dimaksud dalam daftar menu tersebut.Karena semua menu ditulis menggunakan ejaan zaman dulu (tjuma-tjuma=Cuma2, soerja=surya, djama=jaman, prijaji, dll), bukan mengunakan ejaan yang disemprnakan (EYD).
Akhirnya saya menunjuk satu menu minuman yang sampai sekarang tidak bisa saya ingat namanya degan benar, dan roti bakar yang menurut pelayannya sering disantap oleh none-none belanda jaman dulu kala (berasa kaya none belanda jg :p) Sambil menunggu pesanan, saya benar-benar menikmati suasana yang diciptakan didalam rumah makan itu, arsitektur bangunannya yang simple dan sederhana, klasik, poster-poster dan gambar-gambar tua pilihan yang juga dibingkai dengan apik sehingga yang melihat pasti menggumamkan kata “antik”, potongan kain batik dengan motif batik jaman kolonial yg dibentangkan begitu saja dibeberapa sudut ruangan, sangkar burung bambu yang bukan berisi burung melainkan lampu, serta deretan koleksi kecap dan perkakas lainnya (yang tidak biasa saya ditemukan di supermarket manapun saat ini), dan pada akhirnya semua pemandangan tersebut membawa saya pada satu kesimpulan “eksotik”.
Benar saja, bukan cuma suasananya yang layak untuk dinikmati melainkan dari rasa makanan yang dihidangkannya pun layak untuk dicoba, wedang uwuh (sampah) yang saya pesan, roti bakar ala none belanda, mie ajam tjumi, dan menu lainnya memiliki cita rasa khas, dengan sengatan sensasi yang membuat lidah lidah tergelitik, membuat saya enggan meninggalkan tempat ini. Untuk Harga yang ditawarkan, saya hanya mengeluarkan uang 50 ribuan untuk semua pesanan yang saya makan tadi, itupun masih kembalian.
note:
venue : Jalan Sabang Jakarta Pusat
operational : sore hingga malam hari
fasility : free wi-fi
price : Rp. 10.000 sd 50.000