TRS Diner: Resto Ala Amerika

Posted on 27 January 2010 by senggang.
Categories: dates, drinks, eats.
Nuansa retro klasik ala Amerika di TRS Diner Citos

Nuansa retro klasik ala Amerika di TRS Diner Citos

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak anda ketika melihat gambar di samping? Yup, ingatan Saya langsung tertuju pada potongan-potongan gambar berisi setting dalam film-film barat dimana tokoh film tersebut sedang sarapan di restaurant atau kedai pada pagi hari atau malam hari ketika si tokoh menunggu kawannya untuk sekadar nongkrong atau makan malam.

Tapi gambar ini bukan saya ambil dari luar negeri, ini adalah gambar salah satu resto di sudut lantai satu mall besar ibu kota, Cilandak Town Square (Citos). Letaknya yang memang di sudut, diantara cafe-cafe lainnya membuat saya tidak pernah melirik tempat ini sebelumnya. Apalagi terhalang oleh Starbucks dan cafe-cafe lain yang lebih populer untuk disinggahi sebagai tempat nongkrong.

TRS Diner menghadirkan desain simpel modern dengan interior bergaya retro yang banyak diterapkan di barat khususnya Amerika. TRS Diner memang menghadirkan konsep American Diner. Namun demikian resto ini tetap menghadirkan nuansa Indonesia melalui pemilihan warna interiornya, merah dan putih sebagai warna dominan yang menghiasi seluruh area resto. Deretan bingkai klasik yang bergamb Bruce Lee, Bob Dylan hingga Bung Karno langsung tertangkap oleh mata saat melangkahkan kaki menembus pintu masuk ruangan.

Layaknya sebuah resto, beragam menu ditawarkan oleh TRS Diner. Dari menu-menu ringan, menu sarapan pagi, hingga menu makan malam komplit ala Amerika seperti American Slam, Meat Lovers Scramble, Western Burger, fresh juice atau smoothie drinks, dan aneka pudding sebagai dessert, bisa dipilih di daftar buku menu yang berukuran besar. Sambil menunggu pesanan, kita bisa meminta password wifi kepada pelayan. Jadi bagi yang perlu mengirim email, bisa membuka laptop dan bekerja sambil menunggu pesanan diantar.

Note:
venue : Cilandak Town Square (citos) Ground F1. Jalan Tb. Simatupang kav. 17 Jakarta
operational : pkl. 07.00 sd 24.00 WIB
fasility : free wi-fi
price : rate Rp. 20.000 sd Rp. 150.000

Nathan Coffee, The Cozy Place. Ketenangan Diantara Kebisingan.

Posted on 18 January 2010 by senggang.
Categories: dates, drinks, eats.

Ada yang suka dengan keramaian di mall, tapi butuh tempat nyaman untuk ngobrol di tengah-tengah keramain tersebut? jika kita datang ke sebuah pusat perbalanjaan yang ramai sekelas Plaza Semanggi (Plangi), tidak heran jika semua spot nyaman sudah dipenuhi oleh gerombolan pemuda-pemudi atau keluarga yang sedang menikmati waktu berkumpulnya. Dari lantai bawah hingga lantai paling atas, di Sky Dinning Plangi selalu penuh sesak, terlebih ketika waktu akhir pekan tiba. Penghuni kota Jakarta sepertinya tidak ada yang betah menghabiskan waktunya di rumah. Mereka lebih suka memadati pusat-pusat keramaian termasuk mall.
Bagi yang mencari tempat nyaman di tengah kebisingan pusat perbelanjaan tengah kota seperti Plaza Semanggi, jangan khawatir! Saya sudah menemukan solusinya, alternatif tempat yang bisa didatangi setelah kelelahan mengelilingi Plangi. Nathan Coffee, salah satu cafe yang berada di lantai 10 Sky Dinning Plaza Semanggi, Jakarta Selatan.

Saya mengunjungi Nathan Coffee pertama kali pada Minggu sore atas rekomendasi seorang teman. Mustahil rasanya ada tempat nyaman dan hening di Plaza Semanggi, apalagi pada waktu akhir pekan. Di luar dugaan, Nathan Coffee memberi saya jawaban berbeda. Dengan etalase kaca transparan, saya bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam cafe dari luar, begitu juga sebaliknya ketika saya sudah duduk di dalamnya, saya bisa memerhatikan dengan jelas orang-orang yang berlalu-lalang di depan cafe.

Sambil menunggu pesanan yang saya pesan, sambil menghidupkan laptop sesekali saya memerhatikan orang-orang yang mondar-mandir melewati Nathan coffee. Jika Cafe lain menempatkan dapurnya di bagian dalam, atau belakang ruangan, berbeda dengan Nathan Coffee yang begitu masuk, pengunjung langsung disuguhi dengan pemandangan mini bar di titik central sebagai dapurnya.

Saya memilih tempat di atas (lantai 2), karena selain sofa besar-besarnya yang lebih nyaman, privasi pun akan lebih terjaga karena orang-orang di luar cafe tidak bisa melihat apa yang sedang lakukan melalui kaca transparan tadi. Suasana yang begitu segar dan nyaman, membuat saya lup sedang berada di lantai paling atas salah satu pusat perbelanjaan yang selalu ramai dikunjungi.

Mengenai menu, selembar kertas yang dilaminating, yang disodorkan oleh pelayannya kepada saya, menjelaskan bahwa banyak pilihan menu makanan yang bisa kita pesan, mulai dari cemilan ringan seperi banana float, hingga makanan berat seperti nasi goreng buntut, dan berbagai jenis minuman. Yang menarik adalah menu minuman teh dalam ukuran besar dengan berbagai rasa, mulai blackcurent tea, strawberry tea, mango tea dan aroma buah-buahan lainnya. Satu gelas strawberry tea dan pisang coklat crispy cukup untuk mengganjal perut.

Sangat menyenangkan menikmati segelas besar strawberry tea dan cemilan sehat sambil duduk bersila di atas sofa yang nyaman sambil mnegecek FB, Twitter dan browsing-browsing lainnya, menikmati fasilitas wi-fi gratis. Soal harga, untuk segelas besar (benar-benar besar) strawberry tea RP. 17.500,- dan untuk makanannya tidak jauh berbeda dengan harga makanan di cafe-cafe lain pada umumnya, dengan kisaran Rp. 25.000,- s.d Rp40.000,-.

note:

venue : Nathan Coffee Lt. 10 Sky Dinning Plaza Semanggi
fasility : Big sofa, free wi fi, lubang colokan (banyak), dan full music.
operation : pkl 10 pagi sampai 11 malem

Menu Eksotis ala “Kopitiam Oey”

Posted on 13 January 2010 by senggang.
Categories: drinks, eats.
Minuman khas (tradisional) ala Kopitiam Oey yang berisi rempah-rempah dan dipercaya memiliki khasiat tertentu

Minuman khas (tradisional) ala Kopitiam Oey yang berisi rempah-rempah dan dipercaya memiliki khasiat tertentu

Jika Anda sedang berada di sekitar jalan Sabang, dan tiba-tiba merasa lapar atau sekedar mencari tempat untuk nongkrong sambil minum kopi atau minuman tradisional, maka mampirlah ke Kopitiam Oey. Sebuah bangunan dengan gaya zaman kolonial, yang sangat tidak mencolok dari luar, tidak terlalu besar, tapi terbukti mencuri perhatian banyak orang untuk masuk dan mencari tau ada apa di dalam sana.

“Kopitiam Oey” demikian tulisan yang terpampang dengan jelas di atas bangunan itu beserta satu huruf kanji china yang 100% tidak bisa saya baca, tapi saya yakin memiliki terjemahan sama. Letaknya berada pada deretan rumah makan di sepanjang jalan sabang ini, dengan tampilan yang sangat oldis, menawan, dan eksotis. Sensasi yang saya rasakan ketika memasuki tempat ini terasa begitu beda. Begitu masuk, saya langsung disuruh duduk dan disambut dengan disodorkan kertas-kertas menu makanan oleh pelayannya yang berseragam hitam. Menurut pelayannya, tempat makan ini adalah milik Bondan Winarno presenter kuliner yang sering nongol di televisi.

Saya merasa ditarik ke zaman yang tidak pernah saya alami dalam kehidupan nyata. Mungkin berpuluh2 tahun yg lalu, zaman dimana kakek saya sedang melakukan pendekatan dengan nenek saya dulu kala itu. Sambil dicekoki dengan alunan lagu-lagu yang juga belum pernah saya denger sebelumnya, namun dari aliran musiknya saya tau itu sangat klasik, sangat tempoe doeloe, dan sangat tidak familiar ditelinga. Ya.. lagu2 keroncong. (dalam hitungan detik saya terlempar lagi dalam alam imajinasi sendiri, di kepala saya seolah memutarkan adegan dimana ada ibu-ibu dengan konde besar di kepalanya, dengan posisi duduk bersimpuh, dengan mimik muka serius, dan bibir yangg seperti berlomba membentuk huruf O besar dan o kecil, melantunkan lagu-lagu keroncong).

Ketika mba-mba pelayan itu membuyarkan imajinasi yang sedang saya bentuk, menanyakan mau pesan apa, saya kembali dibuat bengong sesaat, terkesima dengan tulisan yang tertera di daftar menu. Bukan bahasanya yang tidak saya mengerti, bukan juga tulisannya yang tidak terbaca, dengan jelas saya mengenali huruf-hurufnya, hanya saja membutuhkan waktu lama untuk mengetahui cara membacanya yang benar, dan menerjemahkannya dengan mengimajinasikan makanan seperti apa yang dimaksud dalam daftar menu tersebut.Karena semua menu ditulis menggunakan ejaan zaman dulu (tjuma-tjuma=Cuma2, soerja=surya, djama=jaman, prijaji, dll), bukan mengunakan ejaan yang disemprnakan (EYD).

Akhirnya saya menunjuk satu menu minuman yang sampai sekarang tidak bisa saya ingat namanya degan benar, dan roti bakar yang menurut pelayannya sering disantap oleh none-none belanda jaman dulu kala (berasa kaya none belanda jg :p) Sambil menunggu pesanan, saya benar-benar menikmati suasana yang diciptakan didalam rumah makan itu, arsitektur bangunannya yang simple dan sederhana, klasik, poster-poster dan gambar-gambar tua pilihan yang juga dibingkai dengan apik sehingga yang melihat pasti menggumamkan kata “antik”, potongan kain batik dengan motif batik jaman kolonial yg dibentangkan begitu saja dibeberapa sudut ruangan, sangkar burung bambu yang bukan berisi burung melainkan lampu, serta deretan koleksi kecap dan perkakas lainnya (yang tidak biasa saya ditemukan di supermarket manapun saat ini), dan pada akhirnya semua pemandangan tersebut membawa saya pada satu kesimpulan “eksotik”.

Benar saja, bukan cuma suasananya yang layak untuk dinikmati melainkan dari rasa makanan yang dihidangkannya pun layak untuk dicoba, wedang uwuh (sampah) yang saya pesan, roti bakar ala none belanda, mie ajam tjumi, dan menu lainnya memiliki cita rasa khas, dengan sengatan sensasi yang membuat lidah lidah tergelitik, membuat saya enggan meninggalkan tempat ini. Untuk Harga yang ditawarkan, saya hanya mengeluarkan uang 50 ribuan untuk semua pesanan yang saya makan tadi, itupun masih kembalian.

note:

venue : Jalan Sabang Jakarta Pusat

operational : sore hingga malam hari

fasility : free wi-fi

price : Rp. 10.000 sd 50.000

hot choco at choco corner’s

Posted on 11 January 2010 by senggang.
Categories: drinks, eats.

Siapa yang tidak suka dengan cokelat? panganan yang juga sekaligus bisa dinikmati dalam bentuk minuman. Sebagian orang percaya cokelat memiliki khasiat tersendiri jika dikonsumsi, bisa sebagai makanan diet dan bisa juga sebagai minuman relaksasi. Saya sendiri suka segala macam bentuk coklat, baik sebagai panganan cemilan atau pun minuman. Namun saya lebih suka menikmati secangkir coklat hangat ketimbang ngemil coklat. Saya percaya secangkir coklat hangat mampu membuat pikiran saya lebih rileks dan pengganti makan makan jika dikonsumsi pada malam hari.

Dalam setiap kesempatan, jika sedang ada meeting atau sekedar ngobrol dengan teman di mall. Biasanya saya memilih tempat makan/minum yang di dalamnya menawarkan menu varian minuman coklat. Salah satu tempat yang saya temukan di sudut ibu kota ini, untuk menikmati coklat hangat dan udara malam adalah Choco Corner’s Pejaten Village.

Kita dapat menikmati secangkir cokelat hangat sambil menghirup udara segar malam jika memilih tempat duduk di luar, sebagai bonus kita bisa melihat orang-orang berlalu lalang setelah berbelanja atau sekedar jalan-jalan di Pejaten Village. Meskipun banyak minuman varian cokelat, namun saya setia memesan menu favorit saya,original hot chocolate  dengan satu sendok gula. Saya lebih suka menikmati rasa cokelat yang benar-benar original daripada harus ditambahkan dengan susu, vanila, atau bahan campuran lain. Satu sachet (setara dg satu sendok) gula cukup terasa manis dan pas di lidah saya. Agak pahit mungkin, untuk ukuran orang yang suka manis, tapi sensasi cokelat hangat yang lembut di lidah benar-benar mengalihkan fokus saya dari rasa agak pahit tersebut.

Selain view yang menenangkan mata, tempat duduk (sofa-sofa dan kursi kayu) yang nyaman, dan udara malam yang menyapu kulit, kita juga dimanjakan oleh akses internet (wi-fi) gratis yang kencang. Sangat berguna untuk saya dan teman-teman yang memburu free wi-fi untuk online :). Buat yang suka membaca, sambil menunggu pesanan, kita juga bisa membaca majalah-majalah dan buku-buku yang disediakan di tengah ruangan.

Masalah harga? jangan hawatir! saya cukup membayar relaksasi secangkir cokelat panas hanya dengan mengeluarkan uang kertas Rp. 20.000 dan kasir akan memberikan anda uang kembalian. Selain cokelat hangat, di sini juga tersedia menu lainnya yang untuk menemani cokelat hangat kita. Calamari, sandwich, sphageti, french fries, bisa menjadi pilihan makanan pendamping cokelat hangat kita.

Note:

venue : Choco Corner’s Pejaten Village

operational : jam operasional mall (11am-11pm)

fasility : sofa, free wi-fi, colokan listrik, buku&majalah bacaan

price : Rp. 15.000 sd Rp 100.000