Lewat Djam Malam, Warisan Budaya yang Diselamatkan Bangsa Lain

9 Jul 2012

00ee160f388ed396ff407920ab29853b_lewatdjammalam-dlm3

Masih ingat dengan peristiwa beberapa waktu lalu mengenai kisruh dan salah kaprah pemberitaan tari Tortor dari Sumatra Utara yang diklaim oleh negara tetangga? Lihat saja reaksi semua orang yang langsung ribut meneriakkan “Malingsia” di berbagai sosial media. Sama seperti dulu ketika batik mulai diaku sebagai warisan budaya bangsa lain. Saya masih ingat betul reaksi masyarakat indonesia pada waktu itu. Perang.

Bagi saya, sudah menjadi kewajiban setiap warga negara untuk memelihara dan lebih jauh lagi melestarikan warisan budayanya. Tanpa terkecuali, bahkan ketika warisan itu hanya berupa sekumpulan piringan hitam yang sudah usang dan terabaikan.

Dua minggu lalu, saya dan beberapa teman saya sperti biasa menghabiskan waktu senggang kami dengan menonton film. Film yang direkomendasikan adalah Lewat Djam Malam. Jujur, sebelumnya saya tidak tahu sama sekali film apakah yang akan saya tonton tersebut, hanya berdasarkan rekomendasi seorang teman lainnya yang merupakan seorang pengamat perfilman tanah air.

Begitu memasuki bioskop, dari film mulai diputar hingga berakhir, saya tidak berhenti bergumam dan menunjukkan kekaguman saya terhadap film “Lewat Djam Malam”. Di sini saya tidak akan membahas atau mereview film ini. Saya hanya akan bilang, bahwa film LDM merupakan film indonesia terbaik, terkeren, dan sempurna yang pernah saya tonton sepanjang hidup saya. Dengan kombinasi alur cerita, penokohan karakter, cast pemain, pengambilan gambar, skrip, dan semuanya yang begitu matang.

f321744b30eedc6b2e29a6c309b34040_blogombal-lewat-djam-malam

Penasaran dengan sejarah film Lewat Djam Malam, saya mencari tahu bagaimana film sekeren ini cuma tayang di salah satu bioskop di Jakarta saja dari sekian banyak bioskop di seluruh Indonesia. Dari situ saya terkejut ketika mengetahui bahwa film yang disutradarai oleh tokoh perfilman nasional, Usmar Ismail pada tahun 1955 ini merupakan film yang direstorasi dengan biaya hampir 3 M.

Kira-kira biayanya hampir sama dengan pembuatan satu film baru. Dan yang lebih mengejutkan adalah bahwa pembiayaan restorasi film Lewat Djam Malam dikeluarkan oleh pemerintah Singapura. Dan kita sebagai masyarakat pemilik warisan sejarah tersebut, apakah sudah turut berpartipasi untuk melestarikannya? Semudah menjawab pertanyaan “Apakah kamu tahu dan sudah menonton film Lewat Djam Malam?” Lalu kalau sudah begitu apakah kita masih akan marah jika warisan budaya tersebut diambil oleh bangsa lain?


TAGS film lewat djam malam warisan sejarah Usmar Ismail


-

Author

Follow Me