Kartini, Potret Pemikiran Perempuan Modern

22 Apr 2013

d9134f436bb6619c88dff63713da7cc9_20130419_040003

Saya malu sekali memikirkan kepentingan pribadi. Saya berpikir-pikir dan melamun tentang keadaan saya sendiri dan di luar, di sekeliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara.” - Kutipan Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon pada 8 April 1902.

Di tengah pertemuan dengan seorang kawan lama, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Kemudian suara di seberang sana memperkenalkan diri sebagai salah satu wartawan yang saya temui Kamis lalu di sebuah acara peringatan Hari Kartini “Membaca Suratnya, Terbitlah Terang” di Teater Cipta 2, Taman Ismail Marzuki. Dalam hitungan detik, saya langsung terbayang sosok perempuan setengah baya berperawakan tinggi, berambut pendek dengan baju putih.

“Peringatan Kartini sangat identik dengan pakaian kebaya dan sanggul, menurut kamu sebagai perempuan yang hidup di era moderen, bagaimana tanggapanmu?” Kira-kira demikian pertanyaan yang diajukan oleh wartawan dari salah satu surat kabar harian nasional itu. Awalnya saya sedikit terkejut langsung ditodong dengan pertanyaan tersebut. Setelah memberi kode kepada teman di samping, saya pun keluar untuk memulai diskusi via telpon menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Kartini.

Seperti yang kita ketahui, Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan yang hari lahirnya selalu diperingati oleh seluruh penduduk Indonesia setiap tahunnya, yakni pada 21 April. Kartini hidup jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 1879-1904. Pada masa itu pengaruh Belanda di tanah Bumi Putera (sebutan untuk Indonesia pada masa itu) masih sangat besar. Perempuan Bumi Putera tidak diperkenankan untuk melanjutkan pendidikan, kodratnya adalah diasingkan (dipingit) lalu dinikahkan dengan lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya. Kartini lahir di tengah keluarga berkecukupan dan berpendidikan, anak dari Bupati Jepara yang memegang teguh nilai-nilai adat istiadat Jawa. Dan sama halnya seperti perempuan yang hidup pada masa itu Kartini remaja pun harus melewati masa pengasingan sebelum akhirnya akan dinikahkan. Namun batinnya selalu memberontak, Kartini ingin sekolah, cita-citanya untuk belajar di Negeri Belanda, dan mendirikan sekolah untuk perempuan di tanah Bumi Putera.

Sebagai seorang perempuan yang hidup pada zaman itu, Kartini adalah perempuan yang berpikir jauh ke depan. Ia tidak hanya memikirkan dirinya, melainkan menghawatirkan kondisi generasi setelahnya. Ia tahu apa yang Ia inginkan dan Ia berjalan menuju ke jalan yang ia cita-citakan. Itulah yang membedakan Kartini dengan perempuan lainnya yang hidup baik pada masanya ataupun sebelumnya. Melalui surat-surat yang Ia tulis kepada Estella H Zeehandelaar (sahabat penanya) dan kenalan-kenalannya, Ia mempertanyakan tentang semua aturan yang mengikatnya dan kesulitan untuk meraih cita-citanya. Lalupertanyaannya sekarang adalah, setelah kebebasan itu ada, emansipasi dijunjung tinggi, dan tidak ada lagi adat atau aturan yang merugikan perempuan, apakah yang sudah kita lakukan?

Bagi saya, kebaya, sanggul, dan kain yang dikenakan oleh Kartini hanyalah simbol budaya, (dalam hal ini adalah pakaian) yang menandakan era di mana Kartini hidup. Esensi peringatan Hari Kartini adalah meneladani pemikirannya, bukan pakaian atau simbol-simbol yang melekat di badannya. Perempuan modern bukan sekedar perempuan yang hidup di era modern, melainkan perempuan yang tau siapa dirinya, tujuan hidupnya, dan bagaimana ia menempatkan diri di tengah masyarakat dan negaranya.


TAGS


-

Author

Follow Me