Opera Jawa Selendang Merah, Simbol Jungkir Balik Dunia

22 Apr 2013

dfb996ea97d3774a687119b4a40740c1_selendangmerahpic

Tidak perlu menguasai bahasa jawa untuk menikmati pertunjukan teatrikal Opera Jawa yang disutradarai oleh Garin Nugroho, yang digelar pada Sabtu-Minggu (13-14 april 2013) di Taman Ismail Marzuki dengan lakon Selendang Merah. Aksi tarian, nyanyian, dan gerak tubuh para pemainnya seolah membius penonton yang duduk rapih memenuhi kursi Teater Jakarta sore itu.

Pertunjukan dibuka dengan memperkenalkan seluruh karakter pamaennya oleh sang narator. Tuan Ledhek adalah pemilik Ledhek Tayub beristrikan Sri Ledhek, seorang penari Tayub dalam pertunjukan yang dipimpinnya. Konflik dimulai ketika Tuan Ledhek melatih monyet yang dipanggilnya Hanoman dengan cambukan bertubi-tubi yang mengakibatkan seluruh badan Si Monyet berlumur darah. Perlakuan keji tersebut menimbulkan rasa iba mendalam dari Sri Ledhek yang menyaksikan aksi kejam sang suami. Karena kasihan dengan Sang Monyet, maka Sri Ledhek pun menyelimuti tubuh hanoman yang berlumur darah dengan sebuah selendeng, selendang berwarna merah.

Tidak terima dengan aksi simpati yang dilakukan sang istri terhadap binatang piaraannya, amarah Tuan Ledhek pun tidak terbendung. Tuan Ledhek mencium aroma penghianatan terhadap dirinya. Ia pun menyimpan kecemburuan yang membabi buta terhadap istrinya. Konflik meradang ketika alam pun menaruh simpati kepada Sang Monyet. Alam dan bumi marah terhadap perbuatan Ledhek yang menyiksa binatang dan merusak keselarasan alam. Musibah pun tak terhindarkan, bencana menimpa desa dimana mereka akan menggelar pertunjukan ledhek tayubnya. Ketua desa akhirnya memerintahkan Tuan Ledhek untuk menggelar upacara tolak bala yang mengharuskan istrinya untuk bercinta dengan monyet. Mereka percaya bahwa tolak bala yang dilakukan dengan cara tarian persetubuhan penari tayub dengan monyet akan mengembalikan keseimbangan alam dan manusia. Maka dunia pun sudah mulai terbalik. Manusia berperilaku seperti hewan dan hewan diperlakukan sebagai manusia.

Simbol dan Satir

Drama pertunjukan teater Opera Jawa dengan lakon Selendang Merah tak ubahnya adalah satir keras yang ingin disampaikan oleh Garin mengenai kondisi kehidupan saat ini. Melalui beragam simbol, Garin seolah ingin meneriakkan pesan kepada penonton betapa kondisi zaman saat ini sudah jungkir balik dan tidak selaras lagi, cuaca, alam, politik hingga ekonomi. Para penguasa yang bisanya hanya mengancam, bukan melindungi atau mengayomi.

Seperti dialog yang sering diteriakkan oleh para pemaennya. “Jungkir balik, jungkir balik.. apa bedanya orang sok penting dengan orang sinting? Apa bedanya kekuasaan tidak melek dengan telek? Jungkir balik, jungkir balik.”

Tokoh Tuan Ledhek mewakili karakter penguasa yang lupa diri dan tanpa sadar terus-menerus merusak keseimbangan alam. Monyet adalah simbol alam itu sendiri, binatang yang diperlakukan semena-mena oleh manusia. Sementara selendang, yang memang identik dengan penari tradisonal Jawa, memiliki makna tersendiri bagi dunia seni dan tari Indonesia. Selendang merah bisa berarti kekuasaan, amarah, bisa juga berarti darah.

Dari sisi pertunjukan sendiri Opera jawa sangat kaya akan seni dan budaya. Instalasi seni panggung yang luar biasa ciamik, tarian dan musik gabungan Jawa Tengah dan Jawa Timuran, kostum dan pakaian tradisional yang eksotis, serta pengunaan bahasa daerah yang kental selama pertunjukan berlangsung. Meskipun tidak semua penonton mengerti bahasa Jawa, tetapi saya yakin tidak sedikitpun pertunjukan Opera Jawa Selendang merah kehilangan unsur magisnya sore itu.


TAGS Opera Jawa Selendang Merah Garin Nugroho Djarum Bakti Budaya


-

Author

Follow Me