• 22

    Apr

    Kartini, Potret Pemikiran Perempuan Modern

    “Saya malu sekali memikirkan kepentingan pribadi. Saya berpikir-pikir dan melamun tentang keadaan saya sendiri dan di luar, di sekeliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara.” - Kutipan Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon pada 8 April 1902. Di tengah pertemuan dengan seorang kawan lama, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Kemudian suara di seberang sana memperkenalkan diri sebagai salah satu wartawan yang saya temui Kamis lalu di sebuah acara peringatan Hari Kartini “Membaca Suratnya, Terbitlah Terang” di Teater Cipta 2, Taman Ismail Marzuki. Dalam hitungan detik, saya langsung terbayang sosok perempuan setengah baya berperawakan tinggi, berambut pendek dengan baju putih. “Peringatan Kartini sangat identik dengan pakaian kebaya da
  • 22

    Apr

    Opera Jawa Selendang Merah, Simbol Jungkir Balik Dunia

    Tidak perlu menguasai bahasa jawa untuk menikmati pertunjukan teatrikal Opera Jawa yang disutradarai oleh Garin Nugroho, yang digelar pada Sabtu-Minggu (13-14 april 2013) di Taman Ismail Marzuki dengan lakon Selendang Merah. Aksi tarian, nyanyian, dan gerak tubuh para pemainnya seolah membius penonton yang duduk rapih memenuhi kursi Teater Jakarta sore itu. Pertunjukan dibuka dengan memperkenalkan seluruh karakter pamaennya oleh sang narator. Tuan Ledhek adalah pemilik Ledhek Tayub beristrikan Sri Ledhek, seorang penari Tayub dalam pertunjukan yang dipimpinnya. Konflik dimulai ketika Tuan Ledhek melatih monyet yang dipanggilnya Hanoman dengan cambukan bertubi-tubi yang mengakibatkan seluruh badan Si Monyet berlumur darah. Perlakuan keji tersebut menimbulkan rasa iba mendalam dari Sri Led
  • 9

    Jul

    Lewat Djam Malam, Warisan Budaya yang Diselamatkan Bangsa Lain

    Masih ingat dengan peristiwa beberapa waktu lalu mengenai kisruh dan salah kaprah pemberitaan tari Tortor dari Sumatra Utara yang diklaim oleh negara tetangga? Lihat saja reaksi semua orang yang langsung ribut meneriakkan “Malingsia” di berbagai sosial media. Sama seperti dulu ketika batik mulai diaku sebagai warisan budaya bangsa lain. Saya masih ingat betul reaksi masyarakat indonesia pada waktu itu. Perang. Bagi saya, sudah menjadi kewajiban setiap warga negara untuk memelihara dan lebih jauh lagi melestarikan warisan budayanya. Tanpa terkecuali, bahkan ketika warisan itu hanya berupa sekumpulan piringan hitam yang sudah usang dan terabaikan. Dua minggu lalu, saya dan beberapa teman saya sperti biasa menghabiskan waktu senggang kami dengan menonton film. Film yan
-

Author

Follow Me